9.2.13

YOUTUBE KRONOLOGIS PRESIDEN PKS LUTHFI HASAN ISHAAQ DITAHAN KASUS SUAP IMPOR DAGING 2013 Pengangkatan Presiden PKS Anis Matta

YOUTUBE KRONOLOGIS PRESIDEN PKS LUTHFI HASAN ISHAAQ DITAHAN KASUS SUAP IMPOR DAGING 2013 Pengangkatan Presiden PKS Anis MattaYOUTUBE KRONOLOGIS PRESIDEN PKS LUTHFI HASAN ISHAAQ DITAHAN KASUS SUAP IMPOR DAGING 2013 Pengangkatan Presiden PKS Anis Matta. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menciduk Ahmad Fathanah karena diduga menjadi kurir suap untuk anggota komisi I DPR Luthfi Hasan Ishaaq. Dugaan ini mencuat karena ada pertemuan antara Luthfi dan Fathanah sebelum transaksi uang. Bagaimana kronologinya? Baca ANIS MATTA KONSOLIDASI KADER PKS DI SUMATERA UTARA 2013 Target Konsolidasi PKS Hingga April

Berdasarkan penelusuran, Luthfi dan Fathanah bertemu sebelum uang dari PT Indoguna Utama sebesar Rp 1 miliar diserahkan ke Fathanah. Usai penyerahan uang, Fathanah juga terpantau KPK melapor ke Luthfi.

Berikut kronologinya sebagai berikut :

Selasa (29/1)

Pukul 12.30 WIB

Fathanah menemui Luthfi di Gedung Nusantara 3, Komplek gedung DPR. Diduga pertemuan itu untuk membahas uang yang disediakan PT Indoguna, perusahaan importir daging yang sudah beberapa kali menjadi rekanan Kementan.

Belum jelas di ruangan mana mereka bertemu. Namun KPK memiliki bukti cukup kuat soal adanya pertemuan ini.

Pukul 15.00 WIB

Fathanah berpamitan dan meninggalkan komplek gedung DPR. Bersama sopirnya, dia menuju Jl Taruna 8, Pondok Bambu Jaktim, tempat PT Indoguna berada. Di situlah proses serah terima uang dilakukan.

Dua direktur PT Indoguna Utama yang sudah menjadi tersangka Arya Abdi Effendi, Juard Effendi, diduga bertemu dengan Fathanah dan menyerahkan uang Rp 1 miliar. Jumlah itu dikabarkan baru sekadar uang muka dari Rp 40 miliar yang dijanjikan.

Pukul 18.00 WIB

Usai menerima uang, Fathanah melapor ke Luthfi. KPK memegang bukti kuat adanya pelaporan ini.

Pelaporan itulah yang dijadikan salah satu dasar bagi KPK untuk menjerat Luthfi. Dalam pembicaraan disebutkan, Luthfi mengiyakan laporan dari Fathanah.

Pukul 20.00 WIB

Di luar dugaan, Fathanah rupanya tak langsung menyerahkan uang itu ke siapa pun. Dia membawa duit pecahan Rp 100 ribu itu ke hotel Le Meridian. Di sana, ada seorang wanita yang sedang menunggunya.

Akhirnya, di hotel mewah itulah, Fathanah dan mahasiswi itu akhirnya ditangkap dan uang Rp 1 miliar yang berada di jok mobil disita.

Pengacara Luthfi, M Assegaf, saat dikonfirmasi soal kronologi ini menegaskan, belum tahu. Dia belum membicarakan persoalan materi kasus dengan Luthfi sebab baru bisa bertemu Senin (4/1) besok.

"Saya tidak tahu, soal materi saya sama sekali tidak tahu, saya belum ketemu. Rencana kita tim hari Senin, akan ketemu, kita akan korek," terang Assegaf .

Pengganti Luthfi Hasan Ishaaq Calon Presiden PKS Baru

Setelah Luthfi mengundurkan diri dan ditahan, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) akan segera mengumumkan presiden barunya menggantikan Luthfi Hasan Ishaaq. Siapakah calon yang akan digadang PKS untuk menjadi presiden ketujuh PKS?

Ketua DPP PKS Bidang Kebijakan Publik Hidayat Nur Wahid mengatakan, sosok presiden baru PKS digodok dalam rapat maraton yang dilakukan sejak Kamis (31/1/2013) kemarin. Sejumlah petinggi PKS yang masuk dalam Badan Pekerja Harian PKS melakukan rapat di kediaman Ketua Majelis Syuro PKS Hilmi Aminuddin. Rapat itu dihadiri Ketua Dewan Syuro, Ketua Majelis Pertimbangan Partai, Bendahara Umum, dan Sekretaris Jenderal. Dari rapat itu, dirumuskan sejumlah kriteria yang disepakati.

"Syarat menjadi presiden PKS yang pertama, dia harus anggota Majelis Syuro, mempunyai track record organisasi yang baik sehingga dia bukan satria piningit yang tiba-tiba menjadi ketua umum partai. Dia harus punya track record memimpin organisatoris partai," ujar Hidayat, Jumat (1/2/2013), saat dihubungi wartawan.

Selain itu, sosok presiden baru PKS ini juga merupakan orang yang dicalonkan Ketua Majelis Syuro PKS setelah mendengarkan usulan dari anggota Majelis Syuro yang berjumlah 99 orang. Hidayat belum mau mengungkap beberapa nama yang tengah digodok partai untuk menjabat sebagai presiden PKS yang baru.

"Nanti saja setelah shalat Jumat akan diumumkan siapa orang itu," ujar mantan Presiden PKS ini. 

Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sudah menggodok nama-nama yang sempat diajukan Dewan Pimpinan Wilayah (DPP) partai ini sebagai pengganti Anis Matta yang mundur dari Wakil Ketua DPR. Calon-calon pengganti Anis itu mengerucut pada empat nama.

Seperti diberitakan, Anis mundur dari jabatannya itu lantaran ingin fokus mengurus partai setelah terpilih sebagai Presiden PKS untuk menggantikan Luthfi Hasan Ishaaq yang menjadi tersangka kasus dugaan suap impor daging.

"Terkait pengganti Pak Anis, tadi di fraksi sudah memusyawarahkan nama ini. Ada nama-nama yang wajar menggantikan beliau, dilihat dari kemampuan pemimpin track record," ujar Ketua Fraksi PKS Hidayat Nur Wahid, Selasa (5/2/2013), saat dihubungi wartawan.

Keempat nama itu yakni Zulkifliemansyah (Wakil Ketua Komisi XI), Fahri Hamzah (Komisi VI), Andi Rahmat (Komisi VII), dan Sohibul Iman (Komisi VI). Dua nama lainnya yang sempat diajukan yakni Ledia Hanifa (Komisi VIII) dan Kemal Azis Stamboel akhirnya tidak masuk dalam pertimbangan fraksi.

Menurut Hidayat, keempat nama itu akan disampaikan kembali ke DPP. "Kami masih mengusulkan nama-nama itu. Nanti yang memutuskan DPP," ucap Hidayat.
Ia memperkirakan pekan depan pengganti Anis Matta sebagai Wakil Ketua DPR dipastikan sudah didapat. "DPP akan memutuskan atau bersidang Kamis atau Jumat. Mungkin Senin (sudah diketahui hasilnya)," imbuhnya.

Sementara itu, PKS juga sudah menetapkan pengganti Luthfi Hasan Ishaaq yang juga mundur sebagai anggota Komisi I DPR. Luthfi mundur setelah ditangkap Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena diduga terlibat kasus suap impor daging.

Hidayat menjelaskan pengganti Luthfi Hasan di DPR nantinya adalah caleg suara terbanyak kedua di bawah Luthfi Hasan untuk daerah pemilihan Jawa Timur III. Kader PKS di nomor urut itu adalah Budiyanto. "Dalam dua tiga hari ini kami akan siapkan proses administrasinya," imbuh Hidayat.






0 comments:

Post a Comment